Al-Firqatun An-Najiyyah (Golongan Yang Selamat)

0 komentar

Rasulullah bersabda :
 إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وفي رواية : على ثلاث وسبعين ملة. قالو : ومن هي يارسول الله؟ قال : هي الجماعة. يد الله مع الجماعة. وفي رواية : قال : ما أنا عليه وأصحابي.
”Orang-orang Yahudi telah terpecah menjadi 71 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu. Orang-orang Nashara terpecah menjadi 72 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 firqah semuanya masuk neraka kecuali satu.” Dalam satu riwayat : ”Menjadi 73 millah”.  Para shahabat bertanya : “Siapakah dia yang selamat itu ya Rasulullah ?. Maka Rasulullah menjawab : ”Meraka adalah Al-Jama’ah. Tangan Allah di atas jama’ah”.

Panjang Jenggot

2 komentar

Tulisan ini tidak akan membahas hukum memanjangkan jenggot atau mencukurnya, karena telah lewat pembahasan itu dalam Blog ini artikel berjudul Hukum Jenggot dalam Syari'at Islam. Bahasan yang akan diangkat di sini adalah panjang jenggot Nabi dan sikap sebagian salaf yang ternukil dalam atsar-atsar yang shahih.
عَنْ جَابِر بْن سَمُرَةَ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ، وَكَانَ إِذَا ادَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ، وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ، وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ
Dari Jaabir bin Samurah, ia berkata : “Rasulullah telah mulai berubah (beruban) rambut kepala bagian depannya dan juga jenggotnya. Apabila beliau meminyakinya, maka ubannya tidak kelihatan. Dan apabila rambut kepala beliau kusut, maka nampaklah uban itu. Jenggot beliau lebat…” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2344].
Dalam hadits lain yang semisal:
عَنْ الْبَرَاءِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجِلًا مَرْبُوعًا عَرِيضَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، كَثَّ اللِّحْيَةِ....
Dari Al-Barraa’, ia berkata : “Rasulullah perawakannya sedang (tidak tinggi dan tidak pula pendek), kedua dadanya bidang/lebar, dan jenggotnya tebal….” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 5232; shahih].

Haramnya Sumpah Palsu

0 komentar

Allah ta’ala berfirman:
وَلا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki-(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan bagimu adzab yang besar” [QS. An-Nahl : 94].

Cinta Tanah Air dan Negeri

0 komentar

Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
Dari Anas radliyallaahu 'anhu berkata : "Rasulullah apabila pulang dari safar, maka beliau melihat dataran tinggi kota Madiinah seraya mempercepat ontanya. Apabila beliau berada di atas kendaraan yang lain (kuda, keledai), maka beliau menggerak-gerakkan kendaraannya karena kecintaan beliau kepadanya (Madiinah)" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1802 & 1886, At-Tirmidziy no. 3441, dan yang lainnya].

(Bukan) Tragedi

1 komentar

Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy rahimahullah adalah mujtahid mutlak yang tidak berafiliasi dengan madzhab Syaafi'iyyah atau madzhab fiqh lainnya.[1] Beliau menulis kitab Shahiih Al-Bukhaariy berisi hadits-hadits yang disusun dalam bab-bab sesuai fiqhnya. Atau dengan kata lain, fiqh beliau rahimahullah ditunjukkan dalam bab-bab Shahiih Al-Bukhaariy.
Beberapa abad kemudian, Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniy rahimahullah (w. 856 H) yang bermadzhab Syaafi'iyyah mensyarah Shahiih Al-Bukhaariy dan membukukannya dalam satu kitab besar berjudul Fathul-Baariy. Kitab beliau ini terkenal dan masyhur di seantero negeri Islam. Dan alhamdulillah, kitab beliau ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.